Home » Ejakulasi Dini » 4 Teori Penyebab Ejakulasi Dini

4 Teori Penyebab Ejakulasi Dini

Teori Penyebab Ejakulasi DiniEjakulasi prematur atau ejakulasi dini adalah suatu kondisi di mana seorang pria ejakulasi atau mencapai klimaks dan melepaskan semen dalam waktu yang sangat singkat sejak hubungan intim dimulai. Ejakulasi dini diindikasikan dengan ejakulasi yang cepat dengan stimulasi penis yang termasuk minimal.

Tidak ada definisi yang jelas untuk seberapa cepatkah ejakulasi yang dikategorikan sebagai ejakulasi prematur. Para ilmuwan di International Society for Sexual Medicine menyatakan bahwa ejakulasi prematur sebagai kejadian ejakulasi yang selalu terjadi lebih cepat atau tepat dari waktu satu menit setelah penetrasi.

Kata selalu dalam pernyataan tadi sangat ditekankan. Rupanya ejakulasi dini yang terjadi sesekali tidak dikategorikan sebagai ejakulasi dini dan tidak perlu diberi perhatian yang besar. Klimaks yang terlalu cepat dikategorikan sebagai ejakulasi dini ketika ejakulasi terjadi selalu lebih cepat pada setiap hubungan intim.

Tidak ada petunjuk yang jelas mengenai hal apakah pria yang mengalami ejakulasi dini benar-benar tidak memiliki kuasa untuk mengontrol ejakulasinya. Kebanyakan pria menyatakan bahwa mereka bisa bertahan lebih lama pada saat berhubungan seksual. Meskipun sebenarnya seorang pria rata-rata mengalami ejakulasi setelah penetrasi selama empat hingga delapan menit.

Pria hanya merasa malu untuk membicarakan ejakulasi dini saja. Ejakulasi prematur adalah masalah seksual yang termasuk sangat umum terjadi. Ada banyak sekali perkiraan mengenai persen penderita ejakulasi prematur terhadap seluruh populasi pria dewasa. Hal tersebut disebabkan karena banyak pria yang tidak berbicara jujur mengenai kemampuannya bertahan sebelum ejakulasi. Satu dari tiga pria bisa mengalami ejakulasi prematur.

Pria dengan ejakulasi dini seringkali memiliki keluhan berupa tekanan emosional dan tekanan hubungan interpersonal dengan istrinya yang membarengi kejadian ejakulasi dini itu. Beberapa kasus ejakulasi dini bahkan membuat sebagian kecil pria menghindari hubungan seksual dengan istrinya karena rasa malu yang muncul karena dirinya merasa tidak mampu ejakulasi dengan normal.

Sementara itu para wanita malah cenderung menganggap bahwa ejakulasi dini adalah hal yang wajar dan bukan merupakan masalah yang besar selama si pria bisa membuatnya terstimulasi dan mencapai klimaks. Tekanan batin akan muncul ketika wanita tidak mendapat jatah orgasme karena si pria tidak pandai mengatur waktu foreplay dan dirinya mengalami ejakulasi dini. Hal itu menyebabkan si pria berjakulasi sebelum wanita mengalami klimaks. Inilah yang menjadi momok bagi hubungan interpersonal suami istri.

Tidak ada patokan yang khusus mengenai penyebab dari ejakulasi prematur. Meski begitu terdapat banyak sekali teori yang dikemukakan para dokter dan ilmuwan. Ada yang berpendapat bahwa penyebab ejakulasi dini adalah bermasturbasi dengan sangat cepat pada masa remaja karena takut ketika bermasturbasi ketahuan oleh orang tuanya atau bahwa ED adalah hasil kegelisahan akan performa seksual seorang pria sebelum berhubungan seksual atau bahkan karena melakukan terlalu sedikit hubungan seksual. B

elum ada bukti yang pasti yang bisa mendukung salah satu pun dari teori-teori tersebut. Ada teori lain yang berusaha menjelaskan kondisi ejakulasi dini dari segi fisiologis pria, misalnya perubahan pada reseptor serotonin, kelainan genetika, penis yang terlalu sensitif, serta kelainan pada sistem syaraf.

Belakangan ini ditemukan fakta bahwa nukleus paragigantocellularis pada otak yang mengontrol ejakulasi. Kelainan genetika dan penyakit lainnya diperkirakan bisa mengubah susunan dan kemampuan dari nukleus paragigantocellularis dari segi fisiologis.

Sementara itu efek dari segi psikis kepada nukleus paragigantocellularis belum ditemukan. Bagaimanapun diperkirakan bahwa kondisi psikis seorang pria tidak mempengaruhi inti paragigantocellularis, tetapi bagian tubuh lain seperti reseptor sensasi pada penis dan lain-lain.

Ejakulasi dini dapat pula disebabkan karena prostatitis atau pembengkakan prostat dan juga akibat efek samping yang ditimbulkan oleh obat-obatan. Dari seluruh fakta dan perkiraan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa ejakulasi dini memiliki dua faktor besar yang mempengaruhi, faktor fisiologis dan faktor biologis.

Depresi dan Stress
Terkadang pria mengabaikan hubungan antara performa seksualnya dengan kondisi emosionalnya. Sebenarnya hal itu sangatlah penting karena kondisi emosional seseorang dapat mempengaruhi performa seksualnya. Ejakulasi prematur dapat disebabkan karena depresi dan stress yang bersifat sementara atau permanen. Stress dan depresi tersebut biasanya terjadi karena tekanan keuangan dalam keluarga, masalah pekerjaan, harapan tidak realistis mengenai performanya, sejarah penindasan seksual, atau hanya kurang percaya diri biasa saja.

Pada saat mengalami depresi seseorang memiliki ruang pikiran yang terbatas karena memiliki fokus kepada hal-hal yang mengkhawatirkannya. Selain itu stress juga menyebabkan otot-otot tubuh penderitanya sangat tegang. Ketika stress, fokus yang teralihkan dari hubungan seksual terhadap istri bisa menyebabkan berkurangnya gairah dan performa seksual. Sementara itu otot-otot tubuh yang tegang menyebabkan aliran darah lebih cepat ke seluruh tubuh, tidak berfokus pada penis. Hal ini menyebabkan ejakulasi dini bahkan impotensi.

Dinamika Interpersonal
Terdapat bukti bahwa hubungan interpersonal antara suami-istri sangat berpengaruh pada fungsi seksual. Kurangnya komunikasi, rasa tersakiti, dan konflik rumah tangga yang menghalangi keintiman di antara suami-istri bisa menyebabkan rasa tidak nyaman ketika bersentuhan fisik dan menyebabkan seks sebagai pengalaman yang mengerikan. Karena hal ini seorang pria menjadi kehilangan gairah dan mengalami penurunan kemampuan seksual yang menyebabkan terjadinya klimaks yang terlalu cepat.

Kondisi Medis
Beberapa kondisi medis bisa menyebabkan ejakulasi prematur. Diperkirakan bahwa kelainan pada kelenjar tiroid bisa menyebabkan kelainan fisik yang menyebabkan ejakulasi prematur. Kelenjar tiroid merupakan kelenjar yang men-sekresi hormon-hormon termasuk hormon yang mengatur perilaku seksual seorang pria seperti testosteron dan lain-lain.

Kelainan pada reseptor serotonin juga bsia menyebabkan ejakulasi dini. Serotonin adalah turunan dari tryptophan yang ditemukan dalam sistem pencernaan, sel darah merah, dan sistem syaraf sentral. Pada manusia serotonin mempengaruhi kebahagiaan dan secara khusus untuk pria, perilaku seksual. Ketidakmampuan tubuh menerima serotonin dan memetabolismenya menyebabkan perubahan perilaku seksual dan bisa menyebabkan stress.

Kondisi medis yang dipengaruhi dari organisme patogenik atau kelainan tertentu juga bisa menyebabkan ED. Infeksi prostat dan saluran kencing diketahui dapat menyebabkan berkurangnya kemampuan seks seorang pria. Hal ini juga berlaku dalam kondisi prostatitis atau pembengkakan prostat. Rupanya ada hubungannya terhadap pembengkakan organ saluran kencing dan prostat dengan ED ini.

Kelainan pada otak dan sistem syaraf juga diperkirakan menjadi salah satu penyebab ejakulasi dini. Kelainan pada sistem reflex bisa menyebabkan otot yang mempengaruhi kinerja penis dan menyebabkan reaksi involunter ejakulasi terjadi begitu cepat. Hal ini juga bisa terjadi karena kerusakan sistem syaraf karena operasi atau trauma.

Kondisi Psikis
Kondisi psikis bisa mempengaruhi sistem syaraf bisa menyebabkan akibat dua arah jika dikaitkan dengan ejakulasi dini. Apakah ejakulasi dini bertambah parah, atau malah disfungsi ejakulasi sama sekali. Hal ini bisa menyebabkan rasa gelisah yang membuat reaksi yang mirip dengan stress pada otak. Dalam hal penyebab ejakulasi dini yang tidak patologis, ejakulasi prematur bisa saja disebabkan karena pria mendapatkan stimulasi seksual yang terlalu banyak atau karena penis menjadi sangat sensitif terhadap stimulasi,


Anda Serius Ingin Mengakhiri Ejakulasi Dini?, Ingin Memuaskan Istri Yang Anda Cintai? Ingin Berhubungan Intim Berjam-Jam?
Silahkan Klik
Disini
 

Anda Serius Ingin Memuaskan Istri Anda? Klik Disini